Anak Durhaka Ini Tidak Peduli Melihat Ayahnya “Dilalap Api”, 30 Tahun Kemudian Dia pun Tewas di Tangan Anaknya Sendiri dengan Cara yang Sama !

http://www.tipsmenarik.com

TipsMenarik.com. Ini adalah sebuah kisah nyata yang benar-benar terjadi. Cerita ini saya dengar dari seorang pendongeng bernama Wang di desa kami saat saya masih duduk di bangku SMA ketika itu.

Saat itu cuaca terik menyengat. Setelah makan, orang-orang desa berduyun-duyun ke alun-alun desa mendengar pak Wang bercerita.

Saat itu pak Wang bercerita tentang seorang anak durhaka yang mendapatkan pembalasan akibat dari perbuatannya. !

Di seberang desa kami ada sebuah keluarga yang lumayan baik secara ekonomi..

Kepala dari keluarga ini adalah seorang tukang kayu yang professional. Boleh dibilang rata-rata orang desa selalu memesan perabot rumah tangga kepadanya, sehingga otomatis kehidupan keluarga ini lumayan makmur.

Tukang kayu tua itu bermarga Li, orang-orang desa memanggilnya tukang kayu Li.

Pak Li tampak sangat bahagia belakangan ini, mengapa? Karena putranya baru saja menikah, usia putranya sudah lebih dari 30 tahun baru menikah.

Sekadar diketahui, pak Li baru mendapatkan anak saat usianya sudah tua, sementara itu, istri pak Li sudah meninggal, jadi ia membesarkan anaknya sendirian, dan kini pak Li telah menunaikan kewajibannya dengan menikahkan anaknya.

Tak lama setelah menikah, perut menantu perempuannya pun mulai membesar, dan tentu saja ini sangat membahagiakan pak Li

Pak Li selalu menyunggingkan senyum bahagianya setiap hari, karena ia akan segera punya cucu, sehingga tidak heran kalau pak Li sangat bahagia.

Pak Li tahu dengan kemampuan anaknya, jadi ia sendiri harus bekerja ekstra mencari uang untuk cucunya nanti.

Selama ini pak Li selalu menunggu di rumah orang-orang datang memesan perabotnya, tapi sekarang tidak bisa lagi, ia harus menjemput bola/mencari order sendiri di luar.

Akhirnya suatu hari, kedua kaki pak Li tertimpa kayu saat sedang membuat perabotan.

Pak Li lalu memeriksakan kakinya ke tabib desa, dan sambil menggeleng kepala, tabib desa itu mengatakan bahwa kedua kaki pak Li mungkin harus diamputasi karena lukanya terlalu parah.

Pak Li seketika menitikkan air mata begitu mendengar keterangan tabib desa, dia bukan khawatir dengan dirinya, tapi khawatir dengan anaknya yang malas dan tidak punya keterampilan kerja serta cucunya yang belum lahir.

Putra pak Li setiap hari hanya bermalas-malasan, suka berjudi dan mabuk-mabukan, tidak pernah mau dengar nasihat pak Li, ayahnya.

Mengetahui kedua kaki ayahnya yang sudah lumpuh, dia pun berkata : “Ayah istirahat saja di tempat tidur, saya yang akan merawat ayah.”

Pak Li terhibur juga mendengar kata anaknya ini, dan merasa anaknya sudah dewasa.

Selama satu bulan semenjak cedera pada kedua kakinya, anaknya cukup telaten merawatnya. Ia sendiri juga sangat menanti-nantikan kelahiran anaknya, perhatian kepada isterinya juga jauh lebih baik dari sebelumnya.

Seperti kata pepatah: Seorang anak yang sangat berbakti sekali pun juga akan merasa jengkel saat orangtuanya terbaring sakit dalam waktu yang lama.

Kata-kata tampaknya memang tidak salah dialamatkan pada pak Li.

Sebulan kemudian, karena tidak ada lagi sumber penghasilan keluarga, apalagi harus merawat ayahnya, si anak pun mulai gusar, dan membentak serta bersikap kasar pada pak Li.

Tiga bulan kemudian, anaknya benar-benar tidak tahan lagi, dan diam-diam terlintas dalam benaknya…

Suatu malam, tiba-tiba terjadi kebakaran di desa, dan sayup-sayup terdengar teriakan panik suara minta tolong, diikuti suara pecahan kaca.

Ternyata rumah reyot pak Li terbakar, api menjalar dengan cepat, karena sebagian rumah di desa terbuat dari kayu, sehingga kobaran api pun semakin besar dan melalap habis barang-barang di dalam kamar pak Li.

Kaki pak Li yang lumpuh tidak bisa bergerak, sehingga ia hanya bisa bergerak beberapa langkah dengan susah payah, dia berteriak minta tolong, berteriak memanggil nama anak dan menantu perempuannya, tapi tidak ada sahutan.

Keesokan harinya, seluruh penduduk desa sudah tahu dengan kabar buruknya, pak Li telah tiada, ia tewas terbakar, putra pak Li tampak menangis histeris di depan semua orang, tapi tidak terlihat setetes air mata pun di matanya.

Atas bantuan segenap penduduk desa, pemakaman pak Li dilakukan sesuai jadwal, sementara rumahnya juga dibangun kembali atas bantuan tetangga.

Rumah yang sederhana itu pun kembali tenang seperti sebelumnya, seolah-olah tidak pernah ada pak Li, tukang kayu yang sederhana ini.

Dua bulan kemudian, cucu mendiang pak Li pun lahir. Ini adalah satu-satunya keturunan keluarga Li.

Singkat cerita, tiga puluh tahun kemudian …

Li Thie, putra mendiang pak Li ini pun sampai pada senja, tapi sekarang Li Thie tidak punya ketrampilan apa pun, ia hanya bisa memulung untuk bertahan hidup.

Seperti bunyi pribahasa, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, sifat Li Thie, sang ayah ini pun menular kepada anaknya.

Usia 30 tahun, tapi luntang lantung setiap hari. Pada musim dingin ini, terlihat Li Thie sedang merapikan kardus-kardus bekas, tiba-tiba pintunya terhempas ditendang anaknya yang mabuk minuman keras.

Dalam keadaan mabuk, anaknya berkata : “Minta 100 ribu lagi, saya mau beli minuman.”

Li Thie hanya bisa menarik napas mendesah dan berkata, “Tidak ada uang lagi, mana ada uang lebih setiap hari hanya aku sendiri yang menjual barang-barang bekas ini ?”

Mendengar itu, anaknya pun kesal lalu berdiri dan menggeledah saku baju ayahnya, uang sebanyak 400 ribu di saku baju ayahnya pun dirampas olehnya.

Li Thie ingin merebut kembali uang itu, tapi didorong anaknya hingga jatuh membentur sisi meja yang lancip dan pingsan seketika.

Anaknya terkejut dan panik melihat ayahnya diam tak bergerak di lantai. Dia mengira telah membunuh ayahnya, dan ingin lari, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Kemudian di tengah setengah sadarnya, ia memapah ayahnya ke atas ranjang, dan menutup badan ayahnya dengan kardus, lalu menuang arak ke atas kardus, Kemudian ia membakar tumpukan kayu bakar di samping pintu, lalu lari.

Tak lama kemudian, Li Thie terbangun dari pingsannya, ia merasa sekujur tubuhnya panas, dan melihat asap tebal membubung di depan matanya.

Dia ingin berteriak, tapi tenggorokannya seperti terbakar, sehingga tidak bisa mengeluarkan suara, dan perlahan-lahan sambil memandang kobaran api, ia pun tewaa.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, air matanya berlinang sambil membayangkan pemandangan demi pemandangan semasa hidupnya, ia terbayang pada ayahnya, membayangkan kobaran api 30 tahun silam, hingga akhirnya dia baru tersadarkan.

Anda bisa lolos dari jeratan hukum, tapi Anda tidak akan pernah bisa lolos dari siklus hukum sebab-akibat.

Sambil terus membayangkan masa lalunya, dia melihat pak Li, ayahnya, Sang ayah memanggilnya dari kejauhan, dan tanpa sadar Li Thie pun memanggil “ayah”, lalu pergi mengikuti ayahnya.

Pak Li dan Li Thie, anaknya itu menoleh ke gubuk yang telah menjadi lautan api, mereka menatap dalam keheningan, diam melayang semakin tinggi lalu lenyap dari dunia fana ini…(jhn/yant)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *