Dua Anak Durhaka Ini Memaksa Bapaknya Mencari Kayu Bakar Saat Turun Salju Lebat, Saat Mencari Kayu Ia Bertemu dengan Orang Budiman, Tapi yang Membingungkan, Empat Anak Ini Saling Memperebutkan Ia Sebagai Bapaknya

http://www.tipsmenarik.com

TipsMenarik.com. Alkisah pada zaman dahulu kala, ada seorang bapak tua bernama Wang Lao Shan ( Pak Wang) , ia mempunyai dua anak laki-laki, kedua anaknya ini sudah menikah, dan kedua anaknya ini sangat kejam padanya! Mereka menyuruh bapaknya harus mencari kayu bakar setiap hari, jika tidak, tidak akan diberi makan.

Saat itu musim dingin telah tiba dan butiran salju lebat pun turun dari langit. Meskipun hujan salju turun dengan lebatnya si putra sulung tetap saja menyuruh bapaknya untuk mencari kayu bakar.

Wang Lao Shan, atau Pak Wang tak berdaya, akhirnya dengan mengelus dada ia pun pergi mencari kayu bakar.

Setibanya di kaki gunung, hamparan salju putih menyelimuti kawasan itu, mau tidak mau Pak Wang pun menggali timbunan salju mencari kayu bakar.

Tepat pada saat itu, kebetulan ada dua pemuda bersaudara yang lewat. Lalu bertanya “Pak, salju lebat begini mana bisa mencari kayu bakar, lebih baik bapak pulang saja.”

Sambil berlinang air mata, Pak Wang lalu menceritakan keadaannya.

Kedua pemuda itu merasa kasihan setelah mendengar cerita Pak Wang, lalu pemuda itu mengambil 10 tael uang (uang zaman kerajaan Tiongkok) dan diberikan kepada Pak Wang, menyuruh Pak Wang membeli makanan.

Pak Wang sangat bersyukur, lalu turun gunung sambil mengucapkan terima kasih pada kedua bersaudara yang baik hati itu.

Di tengah jalan, Pak Wang melihat seorang pelajar yang sedang menangis di bawah sebuah pohon, lalu bertanya kepadanya apa yang terjadi ? Pelajar itu menuturkan sedang terburu-buru ke ibukota untuk ujian kenegaraan, tapi uang bekalnya yang 10 tael hilang entah kemana.

Pak Wang termenung sejenaka, dan berpikir, “apa 10 tael yang diberikan kedua anak muda tadi itu miliknya si pelajar ini ya, “ pikirnya.

Kemudian Pak Wang menunjukkan 10 tael uang itu dan bertanya pada anak itu, apakah uang itu miliknya.

Si pelajar menatap cukup lama uang itu, lalu berkata : “Ini bukan uang saya.” Kemudian dia mencar-cari lagi di sepanjang jalan.

Melihat pelajar itu begitu jujur, Pak Wang lalu mengejarnya, kemudian menyisipkan 10 tael uang itu ke tangan si pelajar itu , dan juga menceritakan tentang asal muasal uang itu.

Ia meminta si pelajar menerima uang itu, sebagai bekal di perjalanan menuju ke ibukota untuk ikut ujian kenegaraan dan semoga sukses.

Si pelajar tiba-tiba berlutut dan memberi hormat dengan menganggukkan kepalanya tiga kali pada Pak Wang, lalu melanjutkan perjalanannya setelah mengingat nama Pak Wang.

Karena uangnya sudah diberikan kepada anak tadi, mau tidak mau Pak Wang harus kembali mencari kayu bakar lagi.

Kebetulan kedua bersaudara yang memberikan uang tadi sedang dalam perjalanan pulang ke rumah bertemu lagi dengan Pak Wang, lalu bertanya : “Pak, kenapa masih mencari kayu bakar?”

Pak Wang lalu menceritakan lagi tentang pertemuannya dengan anak pelajar tadi. Kedua bersaudara itu merasa tersentuh dengan kebaikan Pak Wang.

Kemudian yang sulung berkata : “Jika bapak tidak keberatan, bagaimana kalau bapak ikut kami pulang saja, bapak akan kami anggap sebagai sebagai bapak sendiri, dan kami akan merawat bapak, anggaplah kami sebagai anak sendiri, membantu kami memasak atau menyapu daripada bapak setiap hari mencari kayu bakar. ”

Pak Wang pun mengangguk-angukkan kepala lalu mengikuti kedua bersaudara itu pulang ke rumah mereka.

Sementara itu, kedua anak Pak Wang, sedikit pun tidak merasa cemas meski tidak melihat bapaknya pulang sepanjang hari itu.

Beberapa hari tidak pulang juga mereka tidak panik, mereka malah berpikir, baguslah kalau sudah mati.

Belakangan mereka mendengar ada orang yang merawat bapaknya, dan mereka pun seketika ingin melihatnya.

Dan pada tahun itu, pelajar yang mengikuti ujian kerajaan akhirnya berhasil lulus dan mengabdi sebagai pejabat kerajaan.

Tiga tahun kemudian, si pelajar yang telah berganti rupa sebagai pejabat kerajaan itu pulang ke kampung halamannya, dia mengutus asistennya menghadiahi 1.000 tael untuk Pak Wang.

Asisten sang pejabat kemudian ke desa Pak Wang, pada saat itu, anak durhaka Pak Wang yang mendengar ada uang 1,000 tael untuk Pak Wang kemudian saling memperebutkan uang itu.

“Sebelumnya pejabat kami mengatakan uang itu harus diserahkan kepada Pak Wang,”kata asisten sang pejabat.

Kedua anak durhaka Pak Wang kemudian membawa asisten sang pejabat menemui Pak Wang, dan begitu masuk ke rumah langsung dengan akrabnya berteriak memanggil : “Bapak.”

Pak Wang langsung marah begitu melihat kedua anak durhakanya, dan dengan marah mengatakan : “Saya tidak punya anak seperti kalian berdua, saya juga bukan bapakmu. Anak saya di sini.” Kata Pak Wang sambil menunjuk kedua bersaudara itu.

Kedua bersaudara tersebut lalu berseru : “Dia adalah bapak kami, dan kami adalah anaknya.”

Tiba-tiba, empat orang itu seketika memperebutkan Pak Wang sebagai bapaknya.

Melihat suasana itu, utusan sang pejabat pun tak terdaya, akhirnya membawa mereka ke pengadilan setemnpat.

Hakim yang mengadili mereka pun dibuat bingung, entah bagaimana mengadili kasus memperebutkan Pak Wang sebagai bapaknya.

Sang hakim tampak mengerutkan kening dan berpikir : Mana ada persidangan memperebutkan seorang bapak di dunia ini ?

Tepat pada saat itu, kebetulan sang pejabat melakukan sidak di daerah tersebut, dan ia juga merasa aneh setelah mendengar kasus itu, lalu memukul bedug tanda digelarnya sidang perkara.

Pak Wang menceritakan secara detil kepada sang pejabat tentang anak-anak kandungnya yang menyiksanya, dan menceritakan bagaimana baiknya sikap kedua bersaudara itu terhadap dirinya.

Sang pejabat yang masih ingat dengan Pak Wang itu, lalu bertanya : “Siapa namamu, tinggal dimana ?”

Pak Wang menjawab satu persatu pertanyaan sang pejabat.

Setelah mendengar keterangannya dan yakin bahwa Pak Wang ini adalah orang yang pernah menolongnya, sang pejabat langsung bangkit dari duduknya, dan membantu Pak Wang berdiri, lalu berkata : “O…penolongku!”

Pak Wang memperhatikan dengan seksama, dan ia tak menyangka pejabat kerajaan yang berdiri di hadapannya itu adalah pelajar yang pernah mengalami kesulitan di hamparan salju tiga tahun silam, Pak Wang tampak tercengang.

Kemudian pejabat kerajaan itu memberikan 1,000 tael uangnya kepada dua orang bersaudara tersebut sesuai dengan permintaan Pak Wang.

Semnetara itu, kedua anak durhaka Pak Wang diseret keluar dari pengadilan dan diberi sanksi hukum masing-masing 50 kali cambuk.

Belakangan, si pejabat menjemput Pak Wang dan tinggal bersama dengan sekeluarganya.

Keluarga pejabat kerajaan itu memperlakukan dan menganggap Pak Wang seperti bapak kandungnya sendiri.

Sementara dua bersaudara itu di sekolahkan dan belakangan keduanya menjadi pejabat negara.(jhn/yant)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *